Showing posts with label Pertumbuhan Asuransi. Show all posts
Showing posts with label Pertumbuhan Asuransi. Show all posts

Baru 1% Pekerja Informal Dijamin Asuransi

>> Sunday, November 8, 2009


Asuransi Keesejahteraan sosial yang digulirkan Departemen Sosial sejak 2003 ternyata baru menjangkau 1,1 persen pekerja informal, sekitar 450 ribu dari 41 juta pekerja.


"Susah menyadarkan pekerja dengan pendapatan tidak tetap itu," kata Direktur Jaminan Kesejahteraan Sosial Departemen Sosial Akifah Elansari ketika dihubungi kemarin.


Asuransi dengan premi Rp. 5.000,- perbulan ini, menurut Akifah, belum banyak dikenali tukang ojek, pedagang kaki lima, buruh lepas, dan pekerja sektor informal lainnya didaerah.


Akifah mengakui sosialisasi oleh dinas sosial tingkat provinsi ke kabupaten dan kota masih rendah. Akibatnya, banyak lembaga keuangan mikro di kabupaten yang mestinya bisa menjadi pengelola asuransi tak tahu kebijakan itu.


Dalam asuransi ini, keluarga yang meninggal mendapatkan santunan Rp. 400 ribu hingga Rp. 1 juta. Sejauh ini Departemen Sosial menyediakan Rp. 30 juta untuk pencairan klaim asuransi selama 3 tahun. Namun, rata-rata pertahun, tak samapai 10 % klaim yang dicairkan. (Koran Tempo, 4 Mei 2009)


Gambar : http://www.7junipers.com/images/sea/bali-rice-farmer.jpg



Read more...

Bijak Berinvestasi di Asuransi

>> Tuesday, October 13, 2009


Freddy Kusharyono tidak pernah menyangka uang yang ditanamkannya di produk Diamond Investa milik PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) akan tersangkut masalah. Bayangan mendapatkan keuntungan tinggi dari hasil investasi produk itu sebagai bekal pada hari tua pupus sudah.



Freddy tidak sendiri. Setidaknya 600 nasabah Diamond Investa dengan total dana sekitar Rp340 miliar yang menjadi korban gagal bayar Bakrie Life.



Dari segi produk, sebenarnya tidak ada yang salah di Diamond Investa. Produk semacam itu lazim dijual oleh perusahaan asuransi jiwa di Tanah Air, bahkan di negara lain. Yang membedakan antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya adalah kecermatan manajemen untuk mengelola produk sejenis.



Kekuatan modal dan kesigapan pemegang saham pada saat perusahaan tidak mempunyai kemampuan menutup kerugian atau kegagalan investasi juga turut menentukan.



Diamond Investa merupakan produk gabungan antara investasi dan asuransi jiwa dengan fokus di pemberian return investasi yang maksimum dan pasti. Produk itu menjanjikan imbal hasil sampai di kisaran 12%?13%.



Pilihan jangka waktu investasinya 3 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan. Dalam ilustrasi produk itu, dengan investasi awal Rp50 juta, investor akan mendapatkan nominal dalam 3 bulan sebesar Rp51.232.877, Rp52.541,438 dalam 6 bulan, dan sebanyak Rp55.250.000 dalam 12 bulan.



Produk itu berbeda dengan unit-linked yang membebankan risiko investasi di pundak pemegang polis. Menghindari berasuransi karena takut tertimpa kasus serupa bukan hal yang bijaksana karena asuransi merupakan salah satu bagian terpenting dari perencanaan keuangan.



Nasabah hanya dituntut untuk lebih bijaksana dan jeli memilih perusahaan dan produk sesuai dengan kebutuhannya. Memilih perusahaan asuransi jiwa menjadi langkah awal yang penting.



Salah satu parameter untuk melihat perusahaan masuk kategori sehat yakni dari kinerja keuangan antara lain tingkat risk based capital (RBC) di atas ketentuan minimal pemerintah sekitar 120%.



Sebenarnya parameter kinerja keuangan tidak mutlak sebagai pegangan utama dalam memilih perusahaan. Pada 2007 dan 2008, Bakrie Life menduduki peringkat asuransi jiwa terbaik di berbagai media.



Ada baiknya nasabah mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai reputasi perusahaan. Salah satu yang paling mudah dipantau adalah semakin sering perusahaan ingkar janji, semakin sering nama perusahaan itu menghiasi surat pembaca di berbagai media.



Nasabah juga perlu memastikan penjualan produk asuransi melalui tenaga pemasaran yang berlisensi. Mereka telah dibekali pengetahuan mengenai produk dan mengikuti ujian dari Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) sehingga diharapkan kesalahan penjualan produk bisa diminimalkan.




Lihat karakter



Langkah penting selanjutnya yakni jeli memilih produk. Nasabah perlu menyesuaikan produk dengan karakternya apakah Anda masuk golongan risk taker atau konservatif. Dalam memilih produk ingat konsep high risk, high return.



Wakil Presiden Direktur PT Panin Life Tri Djoko Santoso mengatakan nasabah seharusnya jeli melihat penempatan investasi produk asuransi jiwa berpadu investasi yang dipilih.



Tri Djoko menjelaskan pada awal produk serupa mulai dikembangkan di Tanah Air, produk ini dinilai aman untuk nasabah, sehingga banyak yang menempatkan uang untuk bekal hari tua di produk ini. Pasalnya, instrumen investasi yang digunakan kebanyakan di instrumen yang aman yakni obligasi pemerintah.



Hal yang sama juga dilontarkan oleh Hotbonar Sinaga. Dirut PT Jamsostek itu mengingatkan nasabah untuk hati-hati dan tidak tergiur keuntungan besar. ?Hindari produk yang mayoritas penempatan investasinya di saham karena instrumen itu rawan gejolak, ujarnya.



Selain pengelolaan investasi yang mem-back up produknya, nasabah juga sebaiknya lebih teliti melihat pengelolaan risiko perusahaan yang harus lebih baik dibandingkan dengan produk endowment standar.


Kepala Biro Perasuransian Bapepam-LK Isa Rachmatarwata mengakui risiko produk seperti itu di tangan perusahaan, sehingga tidak ada kewajiban memberitahukan nasabah di mana investasi diletakkan. Berbeda dengan unit-linked yang penempatan investasi diperjanjikan sejak awal.


Namun, dia menegaskan pada era keterbukaan informasi seharusnya perusahaan tidak keberatan menjelaskan investasi yang mem-back up liability produk itu. Beberapa perusahaan telah memberikan informasi yang terbuka melalui laporan keuangan di media atau di website. Sayangnya tidak semua nasabah cermat dan peduli dengan hal seperti itu.



Dia mengingatkan nasabah untuk tidak serakah saat mendapat penawaran produk yang menjanjikan tingkat bunga atau return menarik, bahkan terlampau tinggi. Harus waspada. Jangan karena ditawarkan oleh perusahaan berlisensi, mereka yakin. Perusahaan berlisensi pun tidak setiap hari dan setiap detik bertindak prudent, tegasnya.



Regulator juga mengingatkan perlunya kehati-hatian melihat tawaran perusahaan yang menjanjikan dana pokok bisa diambil sebelum masa pertanggungan berakhir atau saat manfaat berikutnya ditawarkan, tanpa terkena penalti. Produk semacam itu menimbulkan withdrawal risk (penarikan uang) yang tinggi.



Saat kondisi investasi memburuk, nasabah panik dan menarik dananya, di sisi lain perusahaan kesulitan likuiditas, sehingga untuk memenuhi tuntutan nasabah mereka harus mencairkan investasinya pada saat harga jatuh.



Kuncinya, produk masa garansinya semakin panjang dan semakin menjanjikan tingkat investasi yang tinggi, harus semakin disikapi hati-hati, imbuhnya.



Regulator pada 2008 sebenarnya meminta Bakrie Life untuk mengerem investasinya di saham yang dinilai terlalu agresif. Akhir 2008, dampak krisis semakin terasa sehingga RBC mulai minus. Bakrie Life mulai gagal membayar dana pokok nasabah sekitar Juli dan manfaat investasi pada Agustus.



Biro Perasuransian menghentikan penjualan produk Diamond Investa pada Maret 2009 dan seluruh produk Bakrie Life pada Juni 2009.



Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Cerita gagal bayar Bakrie Life mencoreng nama industri asuransi jiwa yang tengah membangun citranya. Cerita seperti ini sebenarnya tidak akan terjadi kalau perusahaan asuransi menempatkan keamanan nasabah sebagai prioritas utama. Namun, hal terpenting adalah Anda menjadi nasabah yang cermat dan bijaksana. (hanna.prabandari@bisnis.co.id)


Sumber: Bisnis Indonesia OnLine



Read more...

Masyarakat Indonesia Kurang sadar Asuransi

>> Tuesday, March 24, 2009


Masyarakat Indonesia masih belum sadar akan pentingnya asuransi dalam hidupnya. Hal itu ditunjukkan dengan perbandingan antara premi dan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) hanya 1,57 persen saja.

Demikian diungkap Koordinator Insurance Goes to Campus (IGTC) Anton Lie di Jakarta, Jumat (13/3). "Hal tersebut jauh sekali jika dibandingkan dengan tetangga kita Malaysia, Singapura, Thailand, ataupun Filipina yang persentasinya sudah di atas 5,5 persen," ungkap Anton.

IGTC yang dibentuk oleh Federasi Asosiasi Perasuransian Indonesia (FAPI) ini, kata Anton, mempunyai program untuk memperkenalkan asuransi kepada masyarakat luas melalui dunia pendidikan. "Masyarakat kita belum memiliki kesadaran bahwa asuransi penting. Mereka tidak sadar karena mereka tidak tahu. Ketidaktahuan itulah yang menimbulkan ketidakpercayaan kepada perusahaan asuransi," kata Anton yang ditemui saat Seminar "Dampak Krisis Finansial Global terhadap Dunia Bisnis Asuransi" di Universitas Katolik Atmajaya.

Anton menolak jika apa yang dilakukan IGTC condong ke perusahaan asuransi. "Itu tidak benar. Kami hanya mau membangun kesadaran pentingnya asuransi. Itu penting bagi masyarakat juga bagi perusahaan. Buktinya pembicara dari perusahaan asuransi pada seminar ini tidak boleh promosi," terang Anton.

Menurut Anton, usaha memasyarakatkan asuransi ini sebenarnya juga mengingat peran asuransi sebagai pilar dari perbankan. "Coba lihat, sebelum pihak bank mengeluarkan pinjaman mereka mesti mendapatkan kepastian bahwa jaminan yang ditawarkan kepada bank sudah diasuransikan," kata Anton.

Ia mencontohnya, ketika perbankan di Amerika limbung akibat krisis keuangan global ternyata pemerintah memprioritaskan perusahaan asuransi AIG untuk diselamatkan. Krisis ekonomi global ini, kata Anton, sebenarnya menjadi peluang bagi bisnis asuransi. "Ketika krisis bergulir banyak orang mulai sadar pentingnya asuransi sehingga mereka membeli polis untuk menyelamatkan asetnya," ungkap Anton.

Lebih lanjut, Anton mengatakan bahwa seminar kali ini merupakan tempat ke-20 dari 27 target lembaga pendidikan untuk acara serupa. "Dari 27 tersebut ada 3 sekolah setingkat SMA, 1 pondok pesantren, dan sisanya PTN/PTS," kata Anton. Ia berharap melalui kegiatan ini para intektual muda ini bisa menyosialisasikannya kepada masyarakat sehingga semakin banyak yang sadar pentingnya asuransi.

C4-09

(Sumber : www.kompas.com)

Read more...

Industri Asuransi, Keajaiban Kecil di Tengah Krisis

>> Wednesday, December 31, 2008

Krisis finansial global, yang berawal dari krisis kredit perumahan di Amerika Serikat (AS), memukul ke segala arah! Setelah menggoyang keras industri keuangan global, krisis ini terbukti cukup berat untuk mengerem pertumbuhan ekonomi dunia. Bahkan, di negara-negara yang kena dampak paling parah, krisis ini menyebabkan resesi. 

Namun, keajaiban kecil justru terjadi pada industri asuransi di Indonesia. Sektor ini seperti kebal terhadap gonjang-ganjing yang tengah terjadi. Ini terlihat dari perubahan aset industri asuransi. Statistik memperlihatkan, hingga kuartal ketiga 2008, aset industri asuransi mencapai Rp 136,07 triliun. Jadi, masih tumbuh tipis: 3,6 persen.

Berdasarkan data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), total pendapatan premi asuransi jiwa pada kuartal kedua 2008 melonjak 44,2 persen, yakni dari Rp 18,27 triliun per Juni 2007 menjadi Rp 26,35 triliun per Juni 2008. Berdasarkan data Departemen Keuangan (Depkeu), angka ini terus naik, menjadi Rp 40,8 triliun pada kuartal ketiga. 


Adapun perolehan premi asuransi umum pada periode tersebut mencapai Rp 17,9 triliun. Angka ini hampir menyamai total perolehan premi selama 2007 sebesar Rp 20,2 triliun. Menurut Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Julian Noor, perolehan ini masih sesuai dengan target yang ditetapkan oleh masing-masing perusahaan asuransi umum. "Karena dampak krisis di Indonesia baru terjadi di akhir tahun 2008, perusahaan asuransi bisa memaksimalkan kinerjanya di tiga triwulan sebelumnya," ujar Julian. 

Kompas.com (Tunggul J. Pamungkas/ Kontan)

Read more...

RISK BASED CAPITAL Asuransi Stabil

>> Tuesday, December 23, 2008



JAKARTA — Kinerja keuangan dan rasio kecukupan modal asuransi (risk based capital/RBC) perusahaan asuransi saat ini masih relatif stabil. Hingga catur wulan III tahun 2008, tidak ada perusahaan asuransi yang memiliki RBC hingga dibawah 120 persen.

Hal ini disampaikan Kepala Divisi Asuransi Badan Pengawas Pasar Modal Lembaga Keuangan (Bapepam LK) Isa Rachmatarwata di Jakarta, Rabu (17/12). "RBC oke. Secara umum tidak ada permasalahan," kata Isa.

Pemerintah menetapkan batas minimal RBC perusahaan asuransi adalah 120 persen. Namun, Isa tidak memungkiri saat ini ada perusahaan asuransi yang tengah dalam pengawasan Bapepam-LK karena RBC anjlok.

Namun, katanya, turunnya RBC tersebut tidak mencapai batas 120 persen. Menurut Isa, yang mendapat pengawasan adalah perusahaan dengan penurunan RBC yang signifikan. Misalnya, RBC yang anjlok dari 200 persen menjadi 150 persen.

"Memang ada 1-2 perusahaan yang menjadi pengawasan. Jika turunnya tajam, menjadi perhatian kami seperti apa yang menyebabkan," kata Isa. Isa berharap, hingga akhir tahun 2008 ini perusahaan asuransi masih tetap bagus, bahkan meningkat.

www.kompas.com


Read more...

Penolong Saat Krisis

>> Sunday, December 21, 2008


Sejumlah penari payung memeriahkan pencanangan kampanye Mari Berasuransi dalam acara perayaan Insurance Day 2008 di Jakarta, Sabtu (18/10). Premi industri asuransi pada semester I/2008 meningkat sebesar 39,4 persen dibandingkan dengan perolehan pada periode yang sama tahun lalu. Asuransi jiwa tumbuh 45,8 persen, sementara asuransi umum menunjukkan pertumbuhan 26,3 persen. 

Industri pasar modal nasional turut dihantam krisis keuangan global yang ditandai longsornya indeks harga saham. Industri pembiayaan atau ”multifinance” juga menderita karena kenaikan suku bunga dan tingginya ”yield” obligasi yang membuat permintaan pinjaman menurun dan meningkatnya kredit bermasalah.

Industri perbankan pun bernasib sama. Ketatnya likuiditas saat ini membuat transaksi pinjaman uang antarbank seret sehingga penyaluran kredit mengalami kontraksi secara drastis. Pendek kata, industri keuangan tiarap gara-gara krisis yang berpusat di Amerika Serikat.

Bagaimana industri asuransi? Karena juga merupakan institusi keuangan yang berhubungan dengan pasar modal dan perbankan, juga problem likuiditas dan nilai tukar, industri asuransi pun sejatinya tak bisa mengelak. Tengok saja kasus perusahaan asuransi terbesar AS, AIG, yang kolaps dan kemudian disuntik dana oleh Pemerintah AS. Nilai investasi pada produk unit link (asuransi dikaitkan investasi) umumnya juga jatuh meskipun baru sekadar potensi mengingat horizonnya investasi yang berjangka panjang.

Berbeda dengan lembaga keuangan lain yang melulu hanya mendapat petaka jika terjadi krisis, industri asuransi justru bisa memperoleh ”berkah” dari krisis. Ini karena bisnis asuransi adalah bisnis risiko dan proteksi.

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia Evelina Pietruschka mengatakan, dalam situasi ketidakpastian seperti saat ini, kinerja industri asuransi justru semakin dinamis. Tak hanya kesadaran masyarakat terhadap asuransi meningkat, tetapi juga peran asuransi dalam menyelamatkan dan mendorong perekonomian juga menjadi dominan.

Kini banyak orang khawatir dengan ketidakpastian kondisi perekonomian pada tahun-tahun mendatang, salah satunya adalah kemungkinan melemahnya pertumbuhan ekonomi yang biasanya berujung pada pengurangan karyawan di banyak perusahaan. Bagi orang yang tidak pernah berasuransi untuk meng-cover biaya kesehatan dan pendidikan, tentu masa depan akan tak jelas. Jika yang bersangkutan kehilangan pekerjaan, tentu bakal kesulitan mendanai semua itu mengingat tak ada lagi pendapatan rutin. Namun, bagi yang telah berasuransi, bisa sedikit lebih tenang karena sudah ada perlindungan asuransi. Sekurang- kurangnya, yang bersangkutan bisa berpikir lebih tenang dalam mencari pekerjaan baru. Korporasi yang proyeknya terhenti akibat macetnya pembiayaan dari bank juga tak perlu khawatir jika telah menutup risiko tersebut dengan asuransi.

Belum lagi jika memperhitungkan dampak memburuknya kondisi perekonomian terhadap meningkatnya gejolak sosial seperti huru-hara yang bisa mengakibatkan rusaknya properti, seperti bangunan dan kendaraan bermotor. Di tengah kekhawatiran ini, orang akan mengandalkan asuransi untuk melindungi properti-properti mereka.

  • Tak signifikan

Terlepas dari situasi krisis atau tidak, yang pasti industri asuransi akan membuat hidup seseorang menjadi lebih tenang, stabil, dan sejahtera. Dengan berasuransi, berarti seseorang telah melakukan proteksi sekaligus perencanaan hidupnya jauh ke depan, bahkan hingga pensiun kelak. Dengan melakukan proteksi terhadap pendidikan anak, jiwa, kesehatan, dan lainnya, berarti seseorang setidaknya telah menyelesaikan kewajiban berpuluh-puluh tahun ke depan pada saat ini. Tidak perlu ada kekhawatiran dan ketakutan berlebihan akan masa depan.

Kata Evelina, krisis apa saja, mulai dari sosial, ekonomi, sampai perubahan iklim, selalu menjadi momentum industri asuransi untuk tumbuh dan berperan lebih besar dalam perekonomian dan kehidupan masyarakat.

Menurut Ketua Umum Federasi Asosiasi Perasuransian Indonesia (FAPI) Mira Sih’hati, kinerja keuangan asuransi domestik tak terlalu terganggu dengan adanya krisis keuangan global saat ini. Kerugian akibat penempatan investasi pada perusahaan keuangan global yang bangkrut tidak signifikan. Itu salah satunya karena investasi perusahaan asuransi di Indonesia sangat dibatasi—maksimum 20 persen penempatan di luar negeri.

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia Kornelius Simanjuntak mengatakan, meskipun pembayaran klaim meningkat saat krisis mengingat asuransi harus menutup kerugian yang diderita korporasi, jika dilihat dalam cakrawala yang lebih luas, ada potensi keuntungan dibalik itu semua.

Selama asuransi dikelola secara baik, dalam arti analisis risiko dan kemampuan modal menjadi pertimbangan utama dalam menutup risiko, pembayaran klaim sebesar apa pun tidak akan mengguncang keuangan asuransi karena pada prinsipnya potensi klaim telah dicadangkan.

Di lain pihak, justru pembayaran klaim akan membuat masyarakat dan korporasi sadar pentingnya asuransi saat menghadapi kesusahan. Ini tentu akan meningkatkan secara luas kesadaran perusahaan untuk berasuransi sehingga pendapatan premi pun akan meningkat.

Selain itu, keberadaan krisis akan menegaskan peran penting asuransi dalam membangun perekonomian. Pembayaran klaim akan menolong perusahaan yang merugi dari kebangkrutan sehingga perusahaan tetap bisa beroperasi. Ujungnya, roda perekonomian tetap meningkat.

Jadi, situasi krisis akan membantu mengubah paradigma orang yang selama ini hanya melihat peran asuransi sebagai salah satu sumber pembiayaan jangka panjang. Yang lebih penting sebetulnya adalah peran asuransi dengan pembayaran klaimnya, yang secara riil melindungi dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Bayangkan ada satu perusahaan yang terkena musibah karena pabriknya terbakar. Secara hitung-hitungan, perusahaan tersebut kemungkinan besar bangkrut. Jika bangkrut, otomatis karyawannya akan kehilangan pekerjaan, hidupnya bisa menderita. Akan banyak anak-anak yang tidak bisa melanjutkan sekolah. Pabrik yang terbakar akan dibangun kembali dengan pembayaran klaim sehingga tak ada karyawan berhenti bekerja. Semua itu tak akan terjadi jika ada asuransi.

Sebagai ilustrasi, selama tahun 2008, asuransi umum telah membayar klaim Rp 8,05 triliun. Jumlah ini tentu setara dengan pembangunan proyek-proyek infrastruktur, seperti pelabuhan, jalan tol, dan pembangkit listrik.

  • Prioritas utama

Terkait pentingnya pembayaran klaim bagi perekonomian, sudah seharusnya perusahaan asuransi pun menempatkan hal ini sebagai yang paling penting, prioritas utama dalam bisnisnya. Problemnya saat ini, justru ketidakyakinan masyarakat terhadap kelancaran pembayaran klaim itulah yang menjadi salah satu faktor asuransi tak berkembang cepat di negeri ini. Proses pembayaran klaim asuransi di Indonesia sering kali masih lamban dan berbelit-belit. Nasabah menjadi kesal. Dampaknya, meskipun telah beroperasi bertahun-tahun, kontribusi industri asuransi tahun 2007 terhadap produk domestik bruto hanya 1,8 persen. Pembayaran klaim yang cepat dan tepat tentu akan kian meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap asuransi.

Kembali ke persoalan krisis, peran asuransi yang tak kalah besar ialah dalam penyediaan lapangan kerja. Karyawan yang kehilangan pekerjaan akibat krisis bisa mengandalkan asuransi dengan menjadi agen. Dalam lima tahun ke depan, industri asuransi bertekad merekrut 500.000 agen asuransi. Ini akan mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia yang kini mencapai 9,43 juta orang dari total tenaga kerja produktif sebesar 111 juta jiwa.

  • Komitmen

Untuk mengoptimalkan peran dan manfaat asuransi dalam situasi krisis saat ini dan ke depan, semua pihak terkait, dari regulator, perusahaan asuransi dan turunannya, hingga masyarakat, tentu harus komitmen bersama mengembangkan industri ini.

Menurut Mira Sih’hati, sedikitnya ada tiga hal yang bisa mendorong tumbuhnya industri asuransi.

Pertama, political will pemerintah dengan menciptakan iklim yang kondusif dan menggairahkan bagi masyarakat untuk mau menempatkan dananya melalui premi asuransi dalam berbagai program asuransi.

Kedua, partisipasi masyarakat, terutama masyarakat akademis. Selama ini kesadaran asuransi masyarakat sangat rendah. Hal ini karena ketidaktahuan mengingat industri asuransi tidak diperkenalkan di bangku sekolah. Karena itu, pelaku industri asuransi sangat berharap asuransi bisa menjadi bagian dari kurikulum pendidikan. ”Jalur sekolah formal adalah edukasi paling ampuh,” kata Mira.

Ketiga, inovasi dan profesionalisme para pelaku industri asuransi sendiri. ”Bagaimana mereka membenahi industri ke dalam. Ya layanannya, ya produk, ya SDM, dan seterusnya,” ujarnya.

Kesimpulannya, industri asuransi harus menunjukkan dirinya benar-benar bisa menjadi ”dewa penolong” dari setiap krisis yang terjadi dengan pembayaran klaim yang lancar dan memuaskan tertanggung. Jika asuransi sudah bisa diandalkan, prospek cerah dan pertumbuhan premi yang tinggi otomatis ikut.

M Fajar Marta dari kompas.com

Read more...

Krisis Justru Picu Pertumbuhan Asuransi 2009

>> Wednesday, December 17, 2008

Industri asuransi diperkirakan akan tumbuh pada 2009. Pertumbuhan ini justru disebabkan oleh krisis ekonomi global yang membuat orang berpikir untuk membeli produk asuransi. 

"Krisis membuat orang mulai khawatir dan mereka mencari perlindungan diri. Karena itu, industri asuransi akan tumbuh," kata Managing Director Wana Artha Life Eddy KA Berutu di sela seminar Peluang dan Tantangan Asuransi pada 2009 di Jakarta, Rabu (17/12).

Eddy mencontohkan, saat kejadian krisis moneter tahun 1998, premi asuransi justru tumbuh di atas 30 persen. Pasalnya, saat krisis moneter, masyarakat khawatir akan meningkatnya kerusuhan dan mulai membeli produk asuransi, terutama asuransi jiwa.

Hal senada juga disampaikan Kepala Biro Perasuransian Badan Pengawas Pasar Modal Lembaga Keuangan (Bapepam LK) Isa Rachmatarwata. Dia mengatakan, pertumbuhan industri asuransi yang diperkirakan akan terjadi pada 2009 juga turut dipengaruhi oleh penurunan harga BBM jenis premium.

"Tahun depan industri asuransi sedikit lebih besar daripada yang bisa dilakukan pada tahun ini. Namun, saya tidak mau beri persentase pertumbuhan itu," kata Isa.

Menurut Isa, pertumbuhan akan terjadi, tetapi tidak terlalu tinggi seperti tahun 2006 dan 2007. Dia memperkirakan, tahun 2009 asuransi jiwa akan tumbuh lebih besar dibandingkan dengan asuransi lainnya.

dari kompas.com

Pentingnya Asuransi Kesehatan Anak (kompasTV)


Read more...

  © Blogger template Sunset by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP