Halaman ini khusus berisi berita-berita aktual yang saya ambil dari beberapa media/web sesuai aslinya, dan berkenaan dengan topik asuransi, investasi, unit link, dan lainnya. Saya mencantumkan sumber pengambilan tersebut.
Asuransi Keesejahteraan sosial yang digulirkan Departemen Sosial sejak 2003 ternyata baru menjangkau 1,1 persen pekerja informal, sekitar 450 ribu dari 41 juta pekerja.
"Susah menyadarkan pekerja dengan pendapatan tidak tetap itu," kata Direktur Jaminan Kesejahteraan Sosial Departemen Sosial Akifah Elansari ketika dihubungi kemarin.
Asuransi dengan premi Rp. 5.000,- perbulan ini, menurut Akifah, belum banyak dikenali tukang ojek, pedagang kaki lima, buruh lepas, dan pekerja sektor informal lainnya didaerah.
Akifah mengakui sosialisasi oleh dinas sosial tingkat provinsi ke kabupaten dan kota masih rendah. Akibatnya, banyak lembaga keuangan mikro di kabupaten yang mestinya bisa menjadi pengelola asuransi tak tahu kebijakan itu.
Dalam asuransi ini, keluarga yang meninggal mendapatkan santunan Rp. 400 ribu hingga Rp. 1 juta. Sejauh ini Departemen Sosial menyediakan Rp. 30 juta untuk pencairan klaim asuransi selama 3 tahun. Namun, rata-rata pertahun, tak samapai 10 % klaim yang dicairkan. (Koran Tempo, 4 Mei 2009)
Gambar : http://www.7junipers.com/images/sea/bali-rice-farmer.jpg
Freddy Kusharyono tidak pernah menyangka uang yang ditanamkannya di produk Diamond Investa milik PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) akan tersangkut masalah. Bayangan mendapatkan keuntungan tinggi dari hasil investasi produk itu sebagai bekal pada hari tua pupus sudah.
Freddy tidak sendiri. Setidaknya 600 nasabah Diamond Investa dengan total dana sekitar Rp340 miliar yang menjadi korban gagal bayar Bakrie Life.
Dari segi produk, sebenarnya tidak ada yang salah di Diamond Investa. Produk semacam itu lazim dijual oleh perusahaan asuransi jiwa di Tanah Air, bahkan di negara lain. Yang membedakan antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya adalah kecermatan manajemen untuk mengelola produk sejenis.
Kekuatan modal dan kesigapan pemegang saham pada saat perusahaan tidak mempunyai kemampuan menutup kerugian atau kegagalan investasi juga turut menentukan.
Diamond Investa merupakan produk gabungan antara investasi dan asuransi jiwa dengan fokus di pemberian return investasi yang maksimum dan pasti. Produk itu menjanjikan imbal hasil sampai di kisaran 12%?13%.
Pilihan jangka waktu investasinya 3 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan. Dalam ilustrasi produk itu, dengan investasi awal Rp50 juta, investor akan mendapatkan nominal dalam 3 bulan sebesar Rp51.232.877, Rp52.541,438 dalam 6 bulan, dan sebanyak Rp55.250.000 dalam 12 bulan.
Produk itu berbeda dengan unit-linked yang membebankan risiko investasi di pundak pemegang polis. Menghindari berasuransi karena takut tertimpa kasus serupa bukan hal yang bijaksana karena asuransi merupakan salah satu bagian terpenting dari perencanaan keuangan.
Nasabah hanya dituntut untuk lebih bijaksana dan jeli memilih perusahaan dan produk sesuai dengan kebutuhannya. Memilih perusahaan asuransi jiwa menjadi langkah awal yang penting.
Salah satu parameter untuk melihat perusahaan masuk kategori sehat yakni dari kinerja keuangan antara lain tingkat risk based capital (RBC) di atas ketentuan minimal pemerintah sekitar 120%.
Sebenarnya parameter kinerja keuangan tidak mutlak sebagai pegangan utama dalam memilih perusahaan. Pada 2007 dan 2008, Bakrie Life menduduki peringkat asuransi jiwa terbaik di berbagai media.
Ada baiknya nasabah mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai reputasi perusahaan. Salah satu yang paling mudah dipantau adalah semakin sering perusahaan ingkar janji, semakin sering nama perusahaan itu menghiasi surat pembaca di berbagai media.
Nasabah juga perlu memastikan penjualan produk asuransi melalui tenaga pemasaran yang berlisensi. Mereka telah dibekali pengetahuan mengenai produk dan mengikuti ujian dari Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) sehingga diharapkan kesalahan penjualan produk bisa diminimalkan.
Lihat karakter
Langkah penting selanjutnya yakni jeli memilih produk. Nasabah perlu menyesuaikan produk dengan karakternya apakah Anda masuk golongan risk taker atau konservatif. Dalam memilih produk ingat konsep high risk, high return.
Wakil Presiden Direktur PT Panin Life Tri Djoko Santoso mengatakan nasabah seharusnya jeli melihat penempatan investasi produk asuransi jiwa berpadu investasi yang dipilih.
Tri Djoko menjelaskan pada awal produk serupa mulai dikembangkan di Tanah Air, produk ini dinilai aman untuk nasabah, sehingga banyak yang menempatkan uang untuk bekal hari tua di produk ini. Pasalnya, instrumen investasi yang digunakan kebanyakan di instrumen yang aman yakni obligasi pemerintah.
Hal yang sama juga dilontarkan oleh Hotbonar Sinaga. Dirut PT Jamsostek itu mengingatkan nasabah untuk hati-hati dan tidak tergiur keuntungan besar. ?Hindari produk yang mayoritas penempatan investasinya di saham karena instrumen itu rawan gejolak, ujarnya.
Selain pengelolaan investasi yang mem-back up produknya, nasabah juga sebaiknya lebih teliti melihat pengelolaan risiko perusahaan yang harus lebih baik dibandingkan dengan produk endowment standar.
Kepala Biro Perasuransian Bapepam-LK Isa Rachmatarwata mengakui risiko produk seperti itu di tangan perusahaan, sehingga tidak ada kewajiban memberitahukan nasabah di mana investasi diletakkan. Berbeda dengan unit-linked yang penempatan investasi diperjanjikan sejak awal.
Namun, dia menegaskan pada era keterbukaan informasi seharusnya perusahaan tidak keberatan menjelaskan investasi yang mem-back up liability produk itu. Beberapa perusahaan telah memberikan informasi yang terbuka melalui laporan keuangan di media atau di website. Sayangnya tidak semua nasabah cermat dan peduli dengan hal seperti itu.
Dia mengingatkan nasabah untuk tidak serakah saat mendapat penawaran produk yang menjanjikan tingkat bunga atau return menarik, bahkan terlampau tinggi. Harus waspada. Jangan karena ditawarkan oleh perusahaan berlisensi, mereka yakin. Perusahaan berlisensi pun tidak setiap hari dan setiap detik bertindak prudent, tegasnya.
Regulator juga mengingatkan perlunya kehati-hatian melihat tawaran perusahaan yang menjanjikan dana pokok bisa diambil sebelum masa pertanggungan berakhir atau saat manfaat berikutnya ditawarkan, tanpa terkena penalti. Produk semacam itu menimbulkan withdrawal risk (penarikan uang) yang tinggi.
Saat kondisi investasi memburuk, nasabah panik dan menarik dananya, di sisi lain perusahaan kesulitan likuiditas, sehingga untuk memenuhi tuntutan nasabah mereka harus mencairkan investasinya pada saat harga jatuh.
Kuncinya, produk masa garansinya semakin panjang dan semakin menjanjikan tingkat investasi yang tinggi, harus semakin disikapi hati-hati, imbuhnya.
Regulator pada 2008 sebenarnya meminta Bakrie Life untuk mengerem investasinya di saham yang dinilai terlalu agresif. Akhir 2008, dampak krisis semakin terasa sehingga RBC mulai minus. Bakrie Life mulai gagal membayar dana pokok nasabah sekitar Juli dan manfaat investasi pada Agustus.
Biro Perasuransian menghentikan penjualan produk Diamond Investa pada Maret 2009 dan seluruh produk Bakrie Life pada Juni 2009.
Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Cerita gagal bayar Bakrie Life mencoreng nama industri asuransi jiwa yang tengah membangun citranya. Cerita seperti ini sebenarnya tidak akan terjadi kalau perusahaan asuransi menempatkan keamanan nasabah sebagai prioritas utama. Namun, hal terpenting adalah Anda menjadi nasabah yang cermat dan bijaksana. (hanna.prabandari@bisnis.co.id)
SURABAYA --- Sepuluh mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya menerima beasiswa dari perusahaan asuransi PT Sun Life Financial Indonesia (SLFI) untuk tahun 2009-2010. Beasiswa tersebut diberikan langsung oleh Presiden Direktur PT Sun Life Financial Indonesia, Chris Lossin, disaksikan Koordinator Kemahasiswaan Direktorat Kemahasiswaaan Unair, Agus Subiantoro, SH MH di Ruang Sidang Utama Rektorat Unair di kampus C Mulyorejo, Kamis (16/7).
Kesepuluh mahasiswa tersebut terdiri atas, empat dari FISIP, tiga dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB), dua dari Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek), dan seorang dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM). Tiap penerima beasiswa memperoleh Rp 3 juta pertahun, selama setahun. Pencairannya diatur oleh jurusan masing-masing tempat mahasiswa belajar. “Bisa diberikan setiap semester atau setiap bulan. Untuk itu terserah pimpinan di jurusannya,” kata Nadia Siregar, Head of Marketing & Corporate Communication PT SLFI. Selain mahasiswa Unair, lima universitas lain yang mendapat beasiswa Sun Life adalah USU (Univ Sumatera Utara), Unpad, UGM, Unud (Udayana) masing-masing kepada 10 mahasiswa, Universitas Indonesia (UI) diberikan untuk 12 mahasiswa. Besarnya beasiswa tidak sama, karena disesuaikan dengan kemahalan dan biaya hidup di kota tempat tinggal masing-masing mahasiswa.
JAKARTA, KOMPAS.com - Rusmiyati (35) tak bisa menyembunyikan kegundahannya. Seperti tahun lalu, tahun ini dan tahun depan pun ia seolah tak henti keluar banyak biaya untuk sekolah anak-anaknya. Ia menyesal tak menyiapkan biaya pendidikan tersebut sejak anak-anaknya lahir.
Tahun lalu, putri ketiga Rusmiyati masuk sekolah TK dan mengeluarkan biaya banyak. Tahun ini, giliran dia memasukkan putra keduanya di Sekolah Dasar. Sementara tahun depan, putra pertamanya juga akan masuk SMP, dan tepat berbarengan dengan putri ketiga masuk SD.
"Setiap tahun seperti tak ada habisnya keluar uang buat sekolah anak-anak, bingung karena tabungan ayahnya tak pernah cukup," ujar Rusmi, warga Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (25/7).
Rusmi jujur mengakui, dia dan suaminya tidak pernah menyadari akan muncul masalah-masalah keuangan seperti ini di kemudian hari. Khususnya, setelah ketiga anaknya menginjak usia sekolah.
Kini, sebagai "manajer keuangan" di rumah, beban Rusmi sangat berat untuk mengatur dan mengelola uang. Mulai biaya hidup keseluruhan sampai biaya kecil yang muncul setiap hari, dari belanja bulanan sampai ongkos pendidikan.
"Memang, kami juga pernah membayangkan persoalan ini, tapi karena Ayahnya punya satu tabungan, jadi kami merasa santai-santai saja waktu di awal anak-anak baru lahir," ujar Rusmi.
Orang Tua Tidak Serius?
Pendidikan dan biaya hidup adalah kata pertama yang kerap muncul di benak orang tua ketika anaknya lahir ke dunia. Suka tak suka, mau tidak mau, mereka akan membayangkan untuk menyiapkan kedua hal itu di kemudian hari. Dan bagi orang tua yang betul-betul menyadari pentingnya pendidikan, pasti akan memberikan perhatian besar pada persoalan yang satu ini.
Hanya, meskipun tahu arti pentingnya pendidikan, tak banyak orang tua betul-betul serius menyiapkan dana pendidikan anak-anaknya. Banyak orang tua selama ini hanya memikirkan kerja dan kerja setiap hari tanpa berusaha menyisihkan uang.
"Mungkin karena mereka berpikir pekerjaan mereka akan selalu awet sampai nanti anak-anaknya sekolah dan menyelesaikan pendidikannya, mereka tidak sadar bahwa segala risiko bisa saja terjadi," ujar perencana keuangan Safir Senduk pada seminar Strategi Cerdas Menyiapkan Dana Pendidikan, Sabtu (25/7) di Jakarta.
Menurutnya, memang, ada tiga kondisi yang selama ini kerap membuat para orang tua tidak mempersiapkan dana pendidikan bagi anak-anaknya. Tiga kondisi itu antara lain:
- Orang tua merasa, bahwa kondisi keuangannya saat ini masih baik dan akan terus bertahan sampai nanti ketika anak-anaknya masuk sekolah
- Orang tua merasa, bahwa biaya sekolah tidak akan naik
- Orang tua merasa, bahwa selama kondisi fisik dan jiwanya masih sehat mereka akan selalu merasa mampu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya, termasuk pendidikan
Siap atau Tidak, Harus Siap!
Untuk itulah, kata Safir Senduk, tanpa perencanaan matang dan sedini mungkin, tak salah jika orang tua seperti dibuat kalang kabut saat anak-anaknya telah memasuki usia sekolah.
Ada tiga alasan utama yang menurut Safir orang tua harus menyiapkan dana pendidikan sedini mungkin, yaitu sekarang dan bukan nanti, yaitu:
- Camkan di dalam benak, bahwa biaya pendidikan saat ini mahal dan akan naik terus
- Kondisi ekonomi tidak selalu bagus
- Fisik mereka sebagai orang tua tidak selalu sehat
"Hitung dari sekarang keuangan Anda, dan jangan pernah menunda-nunda untuk menyisihkan pendidikan dari hitungan-hitungan itu, karena Anda tidak akan pernah sadar akan apa yang akan terjadi kelak di kemudian hari," tukas Safir.
Ketika kehidupan berlalu dengan cepat, dan waktu berjalan seakan sangat singkat, begitu banyak janji yang diberikan, terkadang ada yang sempat terhalang, sehingga terlupa untuk mewujudkannya, tidaklah demikian halnya, jika di awal memang sudah memegang teguh dan menilai sebuah janji adalah komitmen, waktu tidaklah memberi batasan dan halangan.
Sebagai istri yang setia, kalau dalam tradisi jawa, “nunut lan manut” kepada suami, kemanapun suamiku pergi, maka kewajibanku untuk turut dan melayani tanpa ada sedikitpun berbantahan. Sukardjono D. Hutomo, adalah suamiku yang merupakan tempat aku mengabdikan diri sebagai istri, dan diriku sendiri, Siti Hardina, kami berasal dan terlahir, serta bertemu dan menikah di kota gudeg, Yogjakarta, sekitar tahun 1950-an. Suamiku, saat itu merupakan pegawai pemerintah yang menangni bidang/hubungan perdaganan bilateral, perjalanan dinas yang dilakukan suami ke berbagai Negara di kawasan Eropa dan Asia, sebagai konsekwensi menjadi pejabat yang ditunjuk pemerintah mengharuskan kami turut serta. Masa tugas suamiku diantaranya di Belanda, Perancis dan beberapa Negara Eropa lainnya. Hingga pada akhirnya, suamiku Sukardjono D Hutomo dipercayakan oleh pemerintah Indonesia menjadi atase perdagangan di negeri SIngapura.
Beli Polis Asuransi di SIngapura.
Selama menjalani masa tugas di Singapura, sekitar pertengahan tahun 1965 ini merupakan awal perkenalan suamiku dengan asuransi, secara tidak sengaja, suamiku sempat berkenalan dengan Mr. Tan yang berprofesi sebagai agen asuransi sebuah perusahaan yang terkemuka, Sun Life Canada. Mr. Tan dalam memberikan penjelasan sangat jelas dan mudah dimengerti hingga tak lama kemudian suamiku telah memutuskan untuk membeli polis asuransi yang ditawarkan. KOntrak Polis asuransipun dibuat oleh suamiku, pembayaran premi dilakukan dalam bentuk mata uang pound sterling, transaksi pembayaran waktu itu di SIngapura masih menggunakan mata uang Pound sterling. Tahun 1959, karena suatu hal, suamiku harus mengakhiri masa dinasnya di Singapura, pemerintah memanggil pulang Sukardjono ke Indonesia.
Kesulitan Melakukan Pembayaran Premi.
Kiranya, dengan kembali ke Indonesia, ada sedikit masalah dengan asuransi yang dibeli oleh suamiku, ternyata di Indonesia belum ada kantor cabang Sun Life Canada, dan ini berakibat waktu pembayaran premi yang telah jatuh tempo tidak dapat kami lakukan segera. Suamiku mencoba menghubungi Mr. Tan, agen Sun Life Canada di SIngapura, akan tetapi tidak berhasil melakukan kontak. Selama beberapa waktu kami masih terus mencoba, kami merasa, pembayaran premi merupakan kewajiban yang harus kami selesaikan. Hingga tahun berjalan kami benar-benar tidak tahu harus bagaimana melakukan hubungan dengan Sun Life Canada.
Polis sudah berumur 41 tanun
Tahun 1977, saat sedang merapihkan dokumen-dokumen di rumah, suamiku menemukan dokumen polis asuransi Sun Life, masih dalam keadaan lengkap dan rapih. Dan ternyata, setelah kami lihat dan periksa, polis asuransi yang kami miliki sudah berusia 41 tahun! Sudah sekian puluh tahun kami hampir terlupa bahwa kami memiliki polis asuransi.
Mencoba mengajukan Klaim Nilai Tunai.
Dokumen polis asuransi Sun Life Canada yang kami temukan kami bahas dan kami bicarakan, jika saja polis asuransi ini bisa diproses untuk diajukan nilai tunainya.
Hal pertama yang kami lakukan adalah meminta bantuan seoarang teman yang sedang berdinas di Canada, sampai beberapa saat kami tidak mendapat konfirmasi, tidak berhasil, katanya. RUpanya Yang di Atas menunjukkkan jalan yang lain. Secara tidak sengaja, anak kami bertemu dengan agen Sun Life (d/h Modern Sun Life), Diana Mamesah S, dia bilang silahkan saja dan saya akan mencoba membantu.
Melalui bantuan Diana Mamesah S, proses pengujianpun dilakukan, masih dibicarakan di bagian costumer services (saat itu, bagian costumer services menangani penerbitan dan penyimpanan data nasabah). Pelacakan dilakukan oleh Sun Life Financial Indonesia hingga ke head office Canada, dan ternyata existing data ada di Sun Life Hong Kong.
Menerima Pembayaran Nilai Tunai.
Kabar baik kemudian kami terima, tidak berselang lama, yaitu satu bulan, kami menerima konfirmasi bahwa polis asuransi kami bisa diproses dan diterima pengajuan klaim niali tunainya. Kami sebenarnya juga sudah tidak terlalu berharap, kalaupun klaim tidah bisa diterma ya toh tidak apa-apa, akan tetapi kabar biak ini benar-benar mengejutkan kami sekeluarga, kami tidak menyangka bahwasanya, Sun Life merawat dengan baik data-data/polis dari seluruh nasabahnya tanpa kecuali walaupun sudah berusia puluhan tahun. Kami sekeluarga benar-benar teharu dan merasa sangat surprise dengan komitmen Sun Life.
Hingga suatu siang, di siang hari yang sudah saya agendakan, kami diundang Sun Life unutk dating ke kantor pusat Jakarta, dan melakukan serah terima secara santunan nilai tunai, nilainya juga tidak terlalu besar, lebih kurang 10 juta rupiah, bukan nilainya yang menurut kami mempunyai harta, akan tetapi, lebih dari itu, komitmen yang diberikan Sun Life yang membuat kami benar-benar memperoleh pelayanan yang sempurna dan sesungguhnya.
Keluarga Sukardjono, berstrikan Siti Hardina, dengan 4 orang anak, yang pertama Pudjo P Santoso, Tuti Christiani, Emily Meinarti, dan Pudjo Hardianto. Bapak SUkardjono D Hutomo berpulang keHadiratNya, berselang 2 tahun kemudian, tahun 1999 dalam usia 77 tahun.
(artikel merupakan hasil wawancara redaksi HiLife di jl. Danau Matana, Pejompongan, Jakarta Pusat)
Kehidupan dapat diibaratkan sebuah perjalan dan pasti ada penghujung atau akhir. Sesuai kodrat yang sudah ditentukan, perjalan hidup telah digariskan, dan setiap individu memiliki perjalanan yang berbeda-beda, bias saja jalan yang dilalui panjang dan lama, atau sebaliknya perjalan yang terlalu singkat dan tak seberapa lama segera berakhir. Menjadi sebuah rahasia dan hanya Tuhan yang yang tahu bentuk dari masing-masing jalan yang akan dilalui makhluknya, bilamana dan saat bagaimana mahkluknya akan sampai di ujung perjalanan.
Awalnya tidak ada indikasi yang menghawatirkan dari kondisi kesehatan anak kami, I Putu Wijaya, anggapan kami hanya gejala umum karena perubahan cuaca yang sedikit ekstrim, cuaca panas terik yang kemudian berubah hujan dan umumnya yang banyak dialami masyarakat, suhu badan panas, radang tenggorokan dan sakit kepala. Sebagai dokter/pelaksana medis, kami tidak terlalu menganggap serius kondisi ini, perawatan biasa kami lakukan di rumah dan siberi obat biasa saja. Hingga beberapa hari – lebih kurang 2 hari -, ternyata kondisi anak kami tidak mengalami perubahan kearah positif, dan segera saja kami bawa ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan yang lebih intensif. Hasil pemeriksaan yang disampaikan oleh pihak rumah sakit Puri Raharja sungguh mengejutkan kami, anak kami menderita kanker otak. Selama 2 minggu anak kami menjalani perawatan intensif, dan agak menggembirakan terlihat kondisi kesehatannya mengalami kemajuan yang lebih baik, dan hingga akhirnya diperbolehkan pulang ke rumah.
Tulisan atau cerita di atas adalah kejadian yang tidak kami duga sama sekali, seperti sebuah tanda, saat dimana kami semua akan mengalami sebuah kehilangan, kehilangan yang belum siap kami terima. Kami, suami istri, Dr. I Made Molin Yudiasa, tetap sibuk bekerja dengan profesi sebagai dokter dan menjabat juga sebagai direktur di sebuah RS swasta, Puri Raharja, Denpasar, Bali.
Selain kehendak Tuhan Yang Maha Esa diatas, kami juga mengalami sebuah pertemuan yang memberikan sedikit keringanan bagi kami dalam menghadapi cobaan tersebut. Adapun ibu Iis Winarni Murthy dan Bp. I Wayan Djodi, memperkanalkan kami dan menawarkan sebuah program untuk biaya kehidupan di hari tua. Dan salah satu program kami persiapkan untuk anak kami, I Putu Partha Wijaya.Paparan yang disampakan sangat mudah dimengerti bagi kami, selain benefit perlindungan kami juga akan memperolah hasil investasi dari sebagian dana yang kami berikan, nilai tambah lain yang kami terima juga pembayaran preminya bias kami sesuaikan dengan kondisi keuangan kami. Seingat kami, Maret 2008 kami memutuskan membeli program yang ditawarkan, dengan harapan dapat memberikan manfaat kelak dan dalam jangka panjang.
Akhir 2008, putra kami pergi meninggalkan kami untuk selamanya, setelah menjalani perawatan dikarenakan penyakit kanker otak. Tidak kami duga akan secepat ini, harapan kami saat dperbilehkan menjalani perawatan di rumah akan memperoleh peningkatan dalam kesembuhan. Akan tetapi, takhdir menetapkan lain.
Sedikit membantu meringankan beban kami, program perlindungan yang kami beli dari ibu Iis dan bapak I wayan Djodi ternyata sangat tepat dan teramat membantu, uang pertanggungan yang kami terima menjadi solusi biaya perawatan selama berada di RS yang tidak sedikit, dan kemudian juga, sesuai adapt keagamaan di Bali, prosesi/ upacara Ngaben yang tentu saja memerlukan persiapan dan biaya yang tidak sedikit juga dapat tertangani.
Sebagai catatan istimewa kami, Sun Life melakukan koordinasi dan komunikasi saat proses klaim dengan sangat baik dan professional, dan januari 2009, kami telah menerima santunan uang pertanggungnan. Kehilangan tentu saja harus kami terima dengan iklas, akan tetapi, sebuah pengalaman beharga lain kami dapatkan. Asuransi menjadi sebuah kebutuhan penting lain dan tidak dapat ditunda, kami sekeluarga telah menikmati manfaat nyata dan sangat terbantu.
Terimakasih Sun Life Financial Indonesia, ibu Iis WM, dan Bpk I Wayan Djodi, yang telah memberikan solusi financial dan ketenangan untuk kami dalam menyelesaikan kewajiban-kewajiban materi. Hal positif ini akan kami bagi kepada keluarga, teman, dan seluruh karyawan saya. Memiliki polis Asuransi adalah sangat penting.
(sumber tulisan: wawancara dengan Dr. I Made Molin Yudiasa, di Penebel Tabanan, Bali dengan Ibu IIs Winarni Murthy – Hi Life)
PT Sun Life Financial Indonesia (SLF Indonesia) bagian dari Sun Life Financial Inc., sebuah grup perusahaan penyedia layanan jasa keuangan internasional yang berkantor pusat di Toronto, Kanada, hari ini meluncurkan Sun Medicash, sebuah produk asuransi kesehatan tradisional yang berdiri sendiri (stand alone), tanpa memerlukan produk dasar. Sun Medicash dapat dijadikan asuransi tambahan, yang memberikan nasabah manfaat tambahan, meski Tertanggung telah memiliki asuransi kesehatan lain.
Disamping itu, keunikan Sun Medicash lainnya adalah manfaat pengembalian premi yang dimiliki oleh produk ini. Melalui manfaat ini, Tertanggung akan memperoleh pengembalian premi sebesar 50%, jika Tertanggung masih hidup hingga akhir masa kontrak dan meskipun Tertanggung sudah pernah melakukan klaim sebelumnya. Masa kontrak Sun Medicash adalah 8 tahun, dengan besar premi Rp1.500.000,- (satu juta lima ratus ribu Rupiah) hingga Rp5.400.000,- (lima juta empat ratus ribu Rupiah) per tahun.
Selain memberikan perlindungan asuransi kesehatan bagi Tertanggung, Sun Medicash juga dapat digunakan sebagai perlindungan keluarga inti, melalui pembelian polis baru. Produk ini dilengkapi dengan berbagai manfaat asuransi kesehatan lain seperti: Manfaat Santunan Dana Tunai: manfaat ini diperoleh saat Tertanggung menjalani rawat inap di rumah sakit, baik disebabkan oleh penyakit, maupun kecelakaan.
Manfaat ini dibagi berdasarkan 3 jenis plan atau program yang ditawarkan oleh Sun Medicash, yaitu Silver (Rp250.000,- per hari, Gold (Rp500.000,- per hari) dan Platinum (Rp1.000.000,- per hari).
Manfaat Perawatan Intensif (Intensive Care Unit - ICU), yang besarnya 2 kali Manfaat Santunan Dana Tunai. Manfaat Kematian, yang besarnya 10 kali Manfaat Santunan Dana Tunai.
“Kami sangat senang untuk memberikan Indonesia sebuah produk yang dapat memenuhi kebutuhan nasabah, baik bagi perlindungan kesehatan dan jiwa,” kata Chris Lossin, Presiden Direktur, SLF Indonesia. “Kami merancang produk ini khusus untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia yang belum memiliki asuransi kesehatan, atau mereka yang ingin menambah perlindungan asuransi kesehatan yang telah mereka miliki. Kami percaya bahwa produk ini, bersama-sama dengan produk-produk perlindungan dan investasi lain yang telah kami tawarkan, dapat memenuhi kebutuhan perlindungan asuransi masyarakat Indonesia,” tambah Chris.
Dengan diluncurkannya Sun Medicash, SLF Indonesia kini menawarkan 9 produk asuransi jiwa (tradisional dan unit link - atau asuransi yang dikaitkan dengan investasi) yang didistribusikan melalui jalur keagenan. Selain itu, SLF Indonesia juga menawarkan 18 produk asuransi jiwa lainnya melalui jalur distribusi alternatif, yaitu: bancassurance dan direct marketing/telemarketing (DM/TM).